tradisi dusun dliko indah
ASAL MULA DUSUN
DLIKO INDAH
(Studi
penelitian di dusun Dliko Indah)
Oleh :
Anis Setiyani
Mahasiswa
Perbankan Syariah S1
IAIN Salatiga
Pendahuluan :
Pada suatu pagi, seperti biasanya
kesibukan terjadi di desa ini. Bapak-bapak sudah bersiap-siap untuk bekerja,
ibu-ibu memulai aktivitas menyiapkan sarapan pagi untk anak-anaknya yang akan
pergi kesekolah, dan ada pula warga lain yang sudah pergi kepasar untuk
berdagang/kulakan.
Desa ini bernama desa dliko indah.
Desa ini diberi nama dliko indah karena menurut cerita orang dahulu, dulu ada
sepasang kekasih yang berencana untuk menikah dan telah memiliki rumah untuk
masa depannya kelak setelah menikah, tetapi belum juga acara pernikahan
terwujud, orang tua pihak wanita tidak menyetujuinya. Wanita itu pun tetap pada
pendiriannya untuk menikah dengan kekasihnya, namun apa yang terjadi akibat
menentang orang tuanya saat perjalanan pulang dari bepergian wanita itu
kecelakaan dan tewas seketika.
Sehingga rumah tersebut yang sudah
dibangunoleh kedua pasangan tersebut diberi nama Dliko indah. Dliko yang berarti rumah dan indah berarti sesuatu
yang sangat nyaman.
Dan disekitar desa dliko indah
terdapat sungai kecil yang tidak pernah kekeringan walaupun musim kemarau dan
tidak pernah banjir walaupun hujan deras. Sungai tersebut dianggap sungai
rejeki yang terus mengalir yang tidak pernah kering seperti rejeki para
penduduk.
A.
Sistem
kepercayaan atau religi
Menurut tradisi dari dulu warga desa dliko indah
mengukti tradisi kuno/ masa lalu yang merupakan tradisi turun temurun dari
nenek moyang/ yang terdahulu yang meyakini bahwa hidup manusia sudah diaur oleh
alam semesta, sehingga mereka menerima segala taqdir yan telah ditetapkan oleh
Tuhan YME. Sehingga tidak banyak dari mereka yang bersikap nerimo/ pasrah
dengan apa yang telah ditetapkan untuknya.
Orang jawa termasuk warga desa ini percaya apa pun
yang dari dahulu telah dibawa oleh nenek moyang, seperti percaya akan
kekuatab-kekuatan yang melebi kemampuan manusia yang sering disebut sekti/ sakti, serta percaya adanya
makhluk lain didunia ini seperti setan,
jin, gendruwo, pocong, kuntilanak, tuyul, dll.
1. Upacara
kematian
yang berisi nama keluarga yang sudah meninggal yang
akan dikirimkan doa bersama sama. Setelah semua berkumpul dimasjid Upacara
kematian di desa dliko indah yang rata-rata masyarakatnya beragama islam belum
bisa meninggalkan tradisi dan budaya jawa tetapi tetap berpegang teguh ajaran
islam dalam melaksanakan upacara kematian. Ketika ada tetangga yang meninggal
sesegera warga datang kerumah duka untuk memastikan dan membantu persiapan
dalam mengurusi jenazahnya. Sesudah janazah tiba dirumah duka atau sudah berada
dirumah duka warga segera menurusi jenazah dengan ketentuan syariah islam
karena mayoritas warga beragama islam dan dengan memandikan jenazah, mengkafani
dan menyolatkan.
Sebelum jenazah dikuburkan biasanya jenazah yang
sudah diletakkan diatas keranda di gotong dan semua keluarga berjalan brobosan dibawah keranda selama 3 kali
sebagai tanda penghormatan terakhir kemudian modin ( orang yang mengurusi jenazah) akan melempar segenggam beras
kuning dan beberapa uang receh ke arah keranda selama 3 kali dan kemudian
seorang usztad akan membaca surat sebagai pengiring jenazah sebelum diantar ke
makam. Lalu keranda dibawa ke makam atau kuburan denan dipanggul (diletakkan di
atas bahu) dan berjalan dengan membaca
al fatihah untuk mengantar ke kuburan. Jenazah dimakamkan dengan keluarga
laki-laki yang menguburkan dan jenazah ditutup dengan kayu dan diganjel (di
beri) batu dengan bulatan tanah yang besar berjumlah 7 agar tidak miring, lalu modin akan mengucapkan “ sedulurku mbah kasimen tak kandani seumpomo
ono seng takok iku malaikat, seumpomo takok sopo pangeranmu jawaben Allah yen
takok sopo nabimu jawaben Muhammad yen takok opo kitabmu jawabenAl’Quran”(saudaraku
mbah kasimen saya beritahu jika ada yang datang itu malaikat, seumpama bertanya
siapa tuhanmu jawab “Allah” jika Tanya siapa malaikatmu jawab “Muhammad” jika
Tanya apa kitabmu jawab”Al’Quran”) setelah iu baru dikubur dengan tanah.. Setelah
semua selesai masih ada beberapa upacara yang wajib dilakukan yaitu upacara
mendhak, upacara nyewu dina, upacara brobosan (mendhak : memperingati 100 hari
epat kematian, nyewu dina : 1000 hari, brobosan : penghormatan kepada sanak
keluarga kepada keluarga yang meninggal dunia).
1.
Ziarah
kubur
Ziarah
kubur biasanya dilakukan pada sore hari pada malam jum’at kliwon dan di bulan
Sya’ban sebelum bulan puasa dan sebelum hari raya Idhul Fitri. Biasanya warga
yang melakukan ziarah kubur membawa buku yasin dan membawa sapu iduk (sapu lidi) lalu membacakan yasin dan berdoa di samping
nisan kuburan setelah selesai mereka memulai untuk membersihkan makan dengan
mencabuti rumput disamping-samping kubuan dan menyapu dedaunan yang berserakan
agar terlihat bersih. Dan memnyirami kburan dengaan air denan makna agar yang
berada didalam kuburan adem ayam (
dingin dan tenang ) dan menaburi bunga di atas kuburanya.
2.
Nyadran
Nyadran
di desa dliko indah biasanya dilakukan seminggu sebelum bulan puasa di
masjid.tradisi yang dilakukan adalah dengan setiap warga pergi ke masjid
membawa makanan yang dimiliki dan membawa kertas warga meletakkan makanan yang
dibawa ketengah tengah masjid membentuk lingkaran dan menyerahkan nama-nama
keluarga yang telah meninggal kepada ustad untuk dibacakan dan dikirimkan doa,
tidak lupa sebelum masuk kedalam masjid biasanya warga memerkan sedekah kepada
pengurus masjid untuk dikelola dan diberikan kepada yang berhak. Setelah semua
warga berkumpul uztad atau yang memimpin akan bersama sama membaca al quran dan
surat surat pedek, jika sudah selesai ustad akan membacakan nama nama keluarga
yang sudah meninggal diiringi dengan doa dan sholawatan semua warga. Lalu pak
ustad akan memberikan sedikit takziah kepada warga dan mendoakan makanan yang
telah dibawa warga. Setelah semua rangkaian selesai ibu ibu akan maju ketengah
tengah masjid untuk membagi bagi makanan kepada warga dengan rata tetapi
biasanya warga yang tidak sabar semua maju kedepan sehingga menjadi royokan makanan (royokan ; berebut),
sehingga menjadi tradisi tersendiri dari dulu saat nyadran yaitu royokan
makanan. Setelah semua pulang dari masjid di sore hari warga pergi ke makan
keluarganya yang telah meninggal dunia untuk bersih bersih makam dan berdoa untuk
menyambut bulan ramadhan.
3.
Yasinan
ibu ibu dan bapak bapak
Tradisi
atau kebiasaan warga desa dliko indah yang lainya adalah yasinan bapak bapak
dan ibu ibu pada setiap hari kamis malam atau malam jumat. Kegiatan ini
dilakukan rutin setiap minggunya dengan bergilir dari rumah ke rumah setiap
minggunya, kegiatan ini dilakukan karena warga percaya bahwa setiap malam jumat
arwah keluarga yang sudah meninggal datang kerumah untuk minta didoakan supaya
lebih tenang, pengajian bapak bapak dilakukan ditempat yang berbeda dengan
pengajian ibu ibu.biasanya setiap warga yang sedang ditempati pengajian menyediakan makanan dan
minuman seikhlasnya atau seadanya apa yang dimiliki keluarga tersebut. Dan
setiap 2 minggu sekali setiap malam jumat warga mengaji dimasjid dan penggurus
masjid memanggil ulama atau ustad untuk bercramah setelah pengajian bersama.
Sedangkan anak anak melakukan tadarus atau membaca al-Quran di masjid.
4.
Khataman
putra putri
Kebiasaan yang
dilakukan oleh anak anak desa dliko indah sehabis magrib yaitu tadarus atau nderes (nderes : membaca,mengaji) al
Quran, dengan didampingi oleh kakak kakak yang lebih bisa atau lebih tinggi
ilmu agamanya untuk membimbing tadarus al quran, jika salah satu anak yang
sudah khatam al quran atau sudah selesai membaca al quran sampai juz 30
dilakukan khatamul Quran. Qatamul quran dilakukan di masjid tempat biasa anak
anak mengaji tetapi dengan semua warga datang ke masjid untuk mendengarkan
khataman putra putri dan biasanya mengundang seorang ulama atau ustad untuk
memberi ceramah seusai khataman dan biasanya keluarga yang anaknya sedang
khataman keluarga membawa beberapa makanan untuk dihidangkan semua warga. Dan
jika saat bulan ramadhan pada akhir bulan ramadhan atau sebelum lebaran desa
ini mengadakan khataman bersama anak anak.
5.
Pengajian
Pengajian
di desa ini biasanya dilakukan setiap hari minggu, diikuti setiap kepala keluarga.
Diadakan secara bergiliran atau bergantian sesuai dengan urutan yang sudah
ditetapkan sebelumya. Biasanya pengajian setiap minggunya menggundang
ustad/ustadzah untuk mengisi ceramah, sholawatan dan zikir bersama. Kegiatan
pengajian dilakukan agar warga tetap mendapatkan ilmu dari apa yang telah
disampaikan uztad dan bisa lebih baik untuk menjalani hidup. Pengajian ini
biasanya diurus oleh anak-anak karang taruna sebaai penanggung jawab.
6.
Kelahiran
a.
Sebelum
Pada
bulan ketiga kehamilan ibu mengadakan acara selamatan neloni yang wajib
diakukan ibu yang sedang hamil karena warga percaya pada usia kehamilan yang ke
tia inilah ALLAH SWT meniupkan ruh si jabang bayi kedalam perut ibunya.
Biasanya pada siang hari dilakukan bancakan
(memberikan makanan) yang berisi gudangan
dan bubur merah putih kepada setiap
warga.
Pada
bulan ke tujuh dilakukan upacara kehamilan lagi yang disebut mitoni. Upacara
ini diharapkan agar kelak bai yang ada didalam perut selalu sehat sampai proses
kelahiran dan lahirdengan keadaan tubuh yang utuh. Dan member bancakan kepada
waga yang berisi nasi gudangan dan bubur merah putih.
Selanjutnya
dilakukan upacara ritual yaitu menyiramkan air yang diambil oleh tujuh orang
anggota keluarga dan harus diambil pada tujuh sumber mata air yang berbeda, dan
seorang ibu yang hamil juga harus mengganti pakaiannya selama tujuh kali
b.
Sesudah
Biasanya sesudah
melahirkan pertama yang dilakukan adalah membawa ari-ari pulang kerumah dan
segera menguburkanya,lalu setelah bayi dibawa plang eluarga membuat bancakan
yang berisi nasi gudangan dan bubu merah putih dengan tujuan agar bayi yang
baru sampai didalam rumah sehat dan nyaman.
Dan seteah bayi berusia
tujuh hari tali pusarnya akan terlepas dengan sendirinya dan peristiwa ini
disebut puputan. Dan pada hari
ketujuh itu juga akan diadakan aqiqah bayi. Yang bertujuan agar bayi selalu
sehat dan selamat dan aqiqah bayi wajib dilakukan oleh setiap umat muslim yang
memilik anak bagi yang mampu. Saat bayi berusia 35 hari diadakan acara selapanan yaitu memotong rambut bayi
oleh sesepuh atau yang dituakan didalam keluarga dan kemudian orang tua bayi
serta keluarga besar. Dan dilakukandoa bersama.
7.
Pernikahan
a. Sebelum
Sebelum
dilaksanakan pernikahan biasanya seminggu sebelum acara dilakukan pengajian
bersama warga dengan maksud agar kelak acaranya berjalan dengan lancar dan dua
hari sebelum acara calon pengantin melakukan seserahan (seserahan : memberikan sesuatu barang kepada calon
pengantin) dan tukar cicin atau istilah sekarang disebut tunangan. Dan biasanya
setelah itu melakukan pengajian lagi di malam harinya sebagai bentuk rasa
syukur. Hari berikutnya calon pengantin melakukan acara siraman yaitu
menyiramkan air kembang untuk memandikan calon pengantian dan biasanya pertama
kali dilakukan oleh ibu kandungnya dengan maksud memandikan anak nya yang
terakhir kalinya sebelum anaknya dibawa oleh calon suaminya dan selanjutnya
oleh bapak dan seluruh keluarga besar. Malam harinya diadakan acara midodareni
dan biasanya dilakukan di rumah calon pengantin wanitanya. Tujuan dari malam
midodareni yaitu untuk petemua keluarga sebelum dilakukan akad nikah. Dan
keluarga membuat bancakan yang berisi
nasi tumpeng lengkap dengan gudangan dan ingkung, tidak lupa bubur merah putihnya. Dan pada hari acaranya
dilakukan ijab Qabul dan dinikahkan oleh bapak orang tua wanita.
b. Sesudah
Sesudah semua rangkaian acara
selesai masih ada satu lagi acara adat yang wajib dilakukan yaitu sepasaran nganten
(keluarga pengantin perempuan dibawa ke rumah pengantin laki-laki). Dan pihak
perempuan membawa makanan-makanan khas yang biasanya dibawa saat acara. Sebagai
tanda terima kasih.
B.
Sistem
Kemasyarakatan
Sejak
dahulu warga desa dliko indah masih mempercayai adat istiadat yang diberikan
oleh nenek moyang, sehingga kebanyakan warga dliko indah masih membeda-bedakan
antara orang priyayi atau orang besar
dengan wong cilik (orag kecil atau
sederhana) biasanya orang priyayi yaitu
golongan orang-orang yang bekerja sebagai pegawai negri, pengusaha, dan kaum
terpelajar atau orang terhormat seperti kepala desa, rt, rw, lurah dll. Sedangkan
biasanya yang termasuk wong cilik yaitu petani, buruh bangunan, pedagang, dll.
Tetapi walaupun masih membeda-bedakan system kemasyarakatanya warga desa dliko
indah sejak zaman dahulu masih memegang teguh prinsip gotong royong. Dalam
gotong royong inilah warga desa dliko indah tidak membeda-bedakan antara wong priyayi dan wong cilik bagi mereka jika ada yang membutuhkan bantuan berarti mereka wajib
ditolong tanpa memandang derajat.
Kegiatan
kemasyarakatan bagi kaum muda ada juga di desa ini yaiu karang taruna. Menurut
cerita karang taruna dibentuk dengan tujuan agar kaum muda dapat berorganisasi
dan kompak dalam mengurus kegiatan yang berada di desa. Biasanya karang taruna
mengadakan kumpulan satu bulan sekali untuk membahas kegiatan apa saja yang
akan dilakukan untuk mempereratkan hubungan antara anak muda.(
Koentjaraningrat,2002 : 9 )
C. SISTEM
PENGETAHUAN
Sistem pengetahuan di desa
ini termasuk sudah berkembang atau bisa dikatakan sudah maju. Saat ini
masyarakat desa sangat memprioritaskan pendidikan sebagai sumber ilmu. Warga
berlomba-lomba menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya agar kelak hidup lebih
mapan dari orang tuanya. Dan mampu mengubah pola pikir masyarakat untuk
berkembang. Organisasi rukun warga atau rw juga sudah membangun sekolah bermain
atau paud untuk anak-anak usia dini agar bisa bermain sambil belajar. Pengurus
paud pun juga dari masyarakat desa ini sendiri yang pendidikannya tinggi agar
dapat menajarkan kepada anak-anak kecil. System pembayaranya pun tidak mahal
yaitu hanya 10.000 rupiah satu bulan. namun tidak sedikit yang mempunyai
pendidikan tinggi.
D. SISTEM
MATA PENCAHARIAN
Rata rata di desa ini system
mata pencaharian yang banyak yaitu petani, karena setengah dari penduduk desa
mempunyai sawah sendiri dan dikelola sendiri oleh keluarga tersebut. Tetapi
tidak semua seorang petani ada juga yang berprofesi sebagai pedagang, buruh
pabrik, bangunan, dan PNS, dan perkebunan. Desa ini unggul dibidang pertanian
dan perkebunannya karena hasilnya yang sangat melimpah. Warga menggantugkan
hidupnya di bidang tersebut, alat alat yang digunakan petani pun masih
terbilang belum modern.
E. SISTEM
PERALATAN DAN TEKHNOLOGI
1) Peralatan
masak
Sebagian
warga desa dliko indah memasak masih menggunakan peralatan dahulu dan ada juga
yang sudah menggunakan peralatan masak yang modern. Seperti halnya ada yang
menggunakan kompor gas untuk memasak dan masih ada yang menggunakan pawon untuk
memasak alat-alatnya pun masih belum modern seperti Cowek
(alat
memasak yang terbuat dari batu yang dibentuk seperti piringan halus, yang
digunakan untuk ngulek (menghaluskan
bumbu). Cowek dipercaya dapat menambah aroma dan rasa sedap pada makanan.
Masyarakat kami mempercayai, kalau seorang gadis belum bisa ngulek, berarti dia
belum pantas untuk menikah. Karena itu berarti belum bisa memasak untuk
suaminya kelak.) Munthu( ulegan, Munthu
sendiri juga terbuat dari batu. Apabila cowek adalah alasnya, maka muntu adalah
penggilasnya.) Solet (digunakan untuk
menggoreng pada wajan.) Serok (alat
menggoreng yang digunakan untuk mengangkat gorengan yang sudah matang. Biasanya
penuh dengan lubang agar minyak dari gorengan tersaring.) dandang (panci yang digunakan untuk
menanak nasi). irus (sendok sayur
yang terbuat dari tempurung kelapa).
2) Nama
Makanan
Rata-rata
warga desa masih memakan makanan tradisional seperti :
gethuk
(makanan dari ketela pohon yang direbus, dihaluskan, dan dicampuri gula pasir) sagu biji dan nagasari yang sama-sama dibungkus dengan saun pisang. Klepon terbuat dari tepung pati yang
didalamnya diberi gula jawa dan kelapa. Botok terbuat
dari parutan kelapa muda, teri, tomat hijau, lombok hijau yang dibungkus daun
pisang kemudian dikukus. Gudangan terbuat
dari bermacam-macam sayuran seperti bayam, kol, kacang panjang yang direbus
lalu diurap dengan sambal kelapa.
3) Alat
alat bertani
Karena sebagian
besar masyarakatnya bermata pencaharian petani dan alat alat yang digunakan pun
terbilang masih sederhana dan ada yang belum modern diantaranya : traktor,
sabit, cangkul, clurit, gunting rumput, dan masih menggunakan caping sebagai
penutup kepala, gendongan.
4) Rumah
Masyarakat desa
dliko indah memiiki rumah dengan
berbagai bentuk ada yang sudah modern dengan konsep minimalis dan ada yang
masih dari batu bata, ada juga yang masih menggunakan rumah joglo, dan ada pula
yang menggunakan papan.
F. SISTEM
KESENIAN
Di desa
dliko indah juga memiliki kesenian sendiri yang khas yaitu jaranan atau reog,
pemainnya pun biasanya pemain dari anak-anak karang taruna sendiri mereka
menciptaan kesenian reog sebagai hiburan untuk masyarakat dan biasanya ada juga
desa-desa lain yang memanggil kesenian reog untuk dipertunjukkan.
Desa ini
juga mempunyai kesenian Drambblek yaitu semacam dramband tetapi menggunakan
blek atau tong yang bekas dengan iringan nada agar terdengar serasi dan merdu.
Drambblek sendiri tercipta karena ide dari anak-anak karang taruna yang senang
dengan musik dan ingin menciptakan sesuatu yang unik tetapi yang positif dan
disukai oleh masyarakat lainnya.
G. SISTEM
BAHASA
Dalam
keshariannya masyarakat desa dliko indah menggunakan bahasa jawa untuk
berkomunikasi. Tetapi tidak sembarangan bisa menggunakan dengan bahasa jawa ,
bila dengan orang tua atau orang yang lebih tua menggunakan bahasa karma dan dengan teman atau orang yang
sudah akrab dengan kita biasanya menggunakan bahasa ngoko.
KESIMPULAN
:
Nama desa dliko indah diambil dari cerita
dahulu sepasang kekasih yang berniat untuk menikah dan sudah membangun rumah
tetapi gagal karena salah satu pasanganya mennggal sehingga nama desa dliko berarti
rumah dan indah berarti bagus. Sejak dahulu desa dliko indah
masih menggunakan system kebudayaan yang dibawa oleh nenenk moyang dan
menggunakanya sebagai patokan dalam menjalani kehidupan tetapi tetap
mengutamakan Allah SWT. Meneruskan warisan yang dibawa leluhur adalah hal yang
harus dilakukan oleh desa dliko indah tetapi sedikit-sedikit sudah dicampur
dengan zaman modern sehinga tidak terlalu ketinggalan zaman. Dan saling tolong
menolong adalah kewajiban warga desa dliko indah walaupun mereka masih
membeda-bedakan anatara wong cilik dan priyayi tetapi jika ada yang meminta
tolong atau butuh pertolongan mereka menyampingkan perbedaan tersebut untuk
menciptakan kerukunan sesama warga. Sebagian warga desa mempnyaimata pencaharian
sebagai petani, kaena di desa ini sawah dan perkebunannya sangat luas dan
subur, alat alat memasak dan bekerja puyang digunakan sebagian masih
menggunakan peralatan dahulu karena mereka percaya hasil yang dihasilkan lebih
bagus dan enak dibandingkan menggunakan yang modern. Tidak meninggalkan apa
saja kebudayaaan yang ada di desa dliko indah ini dan tetap melestarikannyya
tetapi tetap berpegang teguh pada Al’Quran dan As’Sunnah itu lah yang menjadi
prinsip dan pegangan teguh setiap warga
DAFTAR PUSTAKA
Koentjaraningrat.
1998. Pengantar Antropologi Pokok-Pokok Etnografi II. ABCDJakarta: Rineka Cipta
Koentjaraningrat.
2002. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan
Negoro,
Suryo S. Upacara Perkawinan Tradisional Jawa. www.jagadkejawen.com/index.php?option=com_content&view=article&id=7&Itemid=7&lang=id. Diakses: 11
Juni 2015




terimakasih ya mbak, saya sekarang tinggal di perumahan dliko indah salatiga, saya jadi tahu asal mula desa dliko indah.